kok ngomongnya kasar

Kok, Ngomongnya Kasar?


"Ari jelek, gendut, bau!" jerit Rika (5) dengan wajah marah. Ari pun tak mau kalah. Dengan mata berkaca-kaca menahan tangis karena disebut "jelek", ia balas berteriak, "Rika bego, ompong!". Suka atau tidak, kebiasaan memaki pada anak-anak adalah suatu kenyataan. Cepat atau lambat, anak-anak akan belajar bahwa kata-kata memiliki kekuatan. Jadi bagaimana seharusnya kita bersikap?

Tenang! Ini normal, kok. Pada usia balita ke atas, anak tengah belajar dan menggali berbagai bentuk situasi sosial serta hubungan pertemanan. Sayangnya, proses penggalian ini tidak selalu diimbangi dengan keterampilan sosial mereka. Dengan ketus, misalnya, balita Anda bisa saja berkata pada temannya, "Aku enggak mau main sama kamu lagi!"atau "Ih, kok, sepatumu jelek!". Padahal, bukan itu pesan yang sebenarnya hendak disampaikan anak. Masalahnya, anak belum mengembangkan keterampilan berkomunikasi kompleks yang dibutuhkannya untuk mengungkapkan perasaannya.

Menyontek Sekitar

Saat Rika menyebut Ari "jelek", misalnya, bisa jadi itu merupakan cetusan sakit hati karena si Ari yang sebelum-nya selalu bermain dengannya, kini memilih main dengan teman yang lain. Umumnya anak memaki dengan kata-kata yang mengejek kecerdasan atau fisik, seperti "bego" dan "jelek", tapi mereka juga sering menjadikan atribut yang dikenakan oleh lawan bicaranya sebagai obyek makian, seperti, "Sepatu busuk!" atau "Boneka dekil!"

Bentuk lain dari "makian" mereka adalah dengan mengasingkan lawan bicaranya dari pergaulan, "Sana pergi! Kami enggak mau main dengan kamu!" Selain ketidakmampuan berkomunikasi, kebiasaan berkata kasar juga dapat terjadi karena melihat orang-orang di sekitarnya. Orang-orang dewasa dalam keluarga, teman-teman sebaya, saudara, tetangga, dan tontonan televisi yang kerap melontarkan berbagai bentuk umpatan serta makian, dapat membuat anak-anak merasa, memaki adalah hal yang wajar.

Harus Bagaimana?

Sebagai orang tua, mungkin kita bisa melarang dan mengajari anak untuk tidak berkata-kata kasar. Namun kita tak dapat mencegah anak-anak lain dari kebiasaan omong kasar atau memaki. Meski begitu, Anda bisa, kok, mengajari anak bagaimana harus bersikap saat menghadapi makian dari teman-temannya.

Rasakan kepedihan hatinya

Katakan pada anak, diejek, diolok, dan dimaki adalah hal menyakitkan. Perlihatkan Anda memahami perasaannya. "Kamu sedih dan kesal, kan, waktu Didi memanggilmu si cengeng?". Sarankan pada si kecil untuk mengatakan pada Didi bahwa ia sakit hati.

Jangan sampai anak Anda kapok bergaul. Sebaliknya, pompa terus semangatnya untuk terus membangun persahabatan baru dengan teman-teman yang lebih baik dan membuatnya merasa lebih baik.

Dampingi

Dengan bahasa sederhana, jelaskan pada si kecil, kita tidak dapat mengatur apa yang akan dikatakan oleh orang lain, namun kita dapat memutuskan bagaimana kita akan bereaksi. Tanyakan padanya, apakah ia punya ide untuk menghadapi kata-kata kasar dari teman-temannya? Jika ia kelihatan kehabisan akal, beri beberapa pilihan padanya.

Agar ia dapat memahami perkataan Anda, ajaklah ia bermain sandiwara dengan Anda berperan sebagai si kecil dan anak menjadi si pengejek. Misalnya ia berkata, "Kamu tidak boleh main sama kita soalnya kamu bego!" Maka jawablah, "Saya enggak bego, kok. Saya juga punya teman main lain."

Pilihan lain yang dapat diberikan adalah mengajari anak untuk cuek pada kata-kata kasar temannya. Makian tidak akan menunjukkan kekuatannya bila si korban tidak termakan oleh makian tersebut. Sarankan si kecil untuk tetap melakukan aktivitas yang sedang dikerjakannya atau meninggalkan si teman yang berbicara kasar.

Ajari meminta pertolongan

Dibutuhkan kedewasaan yang cukup untuk menghadapi makian atau kata-kata kasar yang bertubi-tubi. Sulit juga untuk mengharapkan anak-anak kita mampu mengendalikan emosi dan tidak menyerang balik. Wajar, ia hanya anak-anak! Karena itu, ajarilah anak untuk minta bantuan pada diri Anda atau guru sekolah. Guru dapat membantu anak Anda di sekolah dengan menjadi penengah dan mengajari mereka keterampilan sosial yang positif dalam menyelesaikan masalah.

Hindari Kata-kata Kasar!

Bisa jadi, kata-kata kasar dan makian yang dilontarkan si kecil bukan dipelajari dari teman-temannya melainkan dari Anda sendiri. Tentu saja, hal itu Anda lakukan tanpa sadar.
Menggoda anak-anak memang bisa menimbulkan suasana lucu dan humoris dalam keluarga. Misalnya dengan mengatakan, "Kalau kamu terlalu banyak makan, nanti perutnya gendut kayak tong sampah di depan rumah’. Nah, berilah pengertian bahwa perumpamaan itu hanya untuk seloroh atau gurauan. Bila ia tidak memberi reaksi yang sewajarnya terhadap gurauan Anda, mungkin anak benar-benar merasa terisnggung karena menganggap Anda serius.

Jadi, hati-hati saat bergurau. Terutama mengenai hal-hal yang kurang dikuasainya atau kelemahannya. Misalnya, ketakutannya akan gelap atau kecenderungannya untuk menjadi gagap saat belajar membaca. Semua ini hanya akan membuat si kecil merasa malu! Tak perlu menyebarluaskan julukan "Si Tembem" atau "Si Konyil" di depan teman-teman anak Anda. Sebaliknya, ajari dan kenalkanlah anak Anda bentuk-bentuk candaan yang tidak menghina atau menyakiti orang lain.

Kalau Si Kecil Memaki

Tenang

Jangan memberi reaksi berlebihan. Meski Anda kesal mendengar anak Anda menggunakan kata-kata kasar, tetaplah tenang. Kenapa? Anak-anak kadang memaki untuk memperoleh reaksi tertentu atau perhatian.

Lantas apa yang harus Anda lakukan? Pertama, beri respons yang tenang dan ingatkan ia, memaki dapat menyakitkan hati orang lain. "Hayo, kamu ingat, kan, betapa sakit hatinya kamu ketika diejek dulu? Apakah kamu mau temanmu sakit hati karena kata-katamu?"

Tanamkan Empati

Walau ia baru berusia 5-6 tahun, tapi memperkenalkannya dengan dampak kata-katanya terhadap orang lain, dapat membantu ia berempati pada sesamanya. Ingatkan ia bahwa ia pun pernah merasa sedih karena orang lain mengejeknya. Beri ia pengertian, menyadari bahwa orang lain tampak berbeda adalah wajar, namun mengatakannya secara langsung belum tentu sopan.

Tekankan untuk tidak memberi penilaian terhadap orang lain dari penampilan fisik mereka. Pastikan pula anak Anda tidak membuat komentar negatif terhadap penampilan orang-orang di sekitarnya.

Kurangi Persaingan Antar Saudara

Jika balita Anda mengejek kakak atau adiknya, belum tentu itu disebabkan oleh kemarahannya pada saudara-saudaranya. Bisa jadi ia hanya mencari perhatian Anda. Untuk meredakan kebiasaan ini, pastikan setiap anak memperoleh waktu pribadi mereka bersama Anda.

Jika anak Anda cemburu pada adiknya, misalnya, cobalah untuk melibatkan ia dalam tugas-tugas merawat si adik. Ceritakan betapa lucunya ia ketika ia masih bayi, ajari ia mengajak adiknya bermain, bernyanyi, dan sebagainya. Jika ia berhasil membuat adiknya tertawa, pasti ia akan merasa penting dan berharga.

Category: 0 komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar